Jangan Putus Asa Dalam Berdo’a

May 10, 2007 sussyas

“Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu”

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:

Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.

Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, “Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta’ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya. Tetapi jika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. ”

Wacana di atas dilanjutkan:

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :
Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.

Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.

Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.(HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).

Dalam hadits lain disebutkan, Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam menafsiri suatu ayat Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: Maka hendaknya kalian berdua istiqamah, maksudnya adalah tidak tergesa-gesa. Sedangkan ayat, Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:

Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.

Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij’itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:

Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap merasa hina di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina .

Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:

Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu.

Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.

Entry Filed under: Islamku

2 Comments Add your own

  • 1. muhsinassegaf  |  June 14, 2007 at 11:29 am

    Hikmah dari Imam Ja’far as.

    Hati Orang-orang Arif

    Imam Ja’farAl-Shadiq as. berkata, “Hati orang-orang Arif terdiri atas tiga unsur: rasa takut, harapan, dan cinta. Takut cabang ilmu. Harapan cabang keyakinan. Cinta cabang makrifat. Bukti takut adalah berlari, bukti harapan adalah meminta, dan bukti cinta adalah mengutamakan kekasih atas selainnya. Kalau terdapat ilmu dalam hati, ia takut. Kalau terjadi rasa takut, ia berlari. Kalau berlari, ia selamat. Kalau bersinar cahaya keyakinan dalam hati, ia menyaksikan kebaikan, kalau bisa melihat kebaikan, ia berharap, kalau merasakan manisnya harapan, ia mencari, dan kalau berhasil dalam mencari, ia mendapatkan.

    Kalau cahaya makrifat bersinar dalam hati, bertiup kencang angin cinta, kalau bertiup kencang angin cinta dan merasa senang dalam bayang-bayang kekasih, ia mengutamakan sang kekasih atasselainnya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, dan mendahulukan pilihan kepada keduanya atas segala sesuatu selain keduanya. Dan jika istiqamah bersama hamparan kesenangan bersama sang kekasih dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, ia sampai pada inti munajat dan kedekatan. Ketiga unsur ini layaknya al-haram, masjid, dan Ka’bah. Maka, siapa yang masuk al-haram, ia aman dari segenap makhluk. Siapa yang masuk masjid, aman anggota raganya dari digunakan dalam maksiat. Siapa masuk Ka’bah, aman hatinya dari disibukkan oleh mengingat selain Allah Yang Mahaluhur. Maka, lihatlah! Hai orang Mukmin. Kalau keadaanmu adalah keadaan di mana kamu merasa rela dengan datangnya kematian, maka bersyukurlah kepada Allah Yang Mahaluhur atas taufik-Nya dan penjagaan-Nya. Dan kalau keadaannya lain, pindahlah darinya dengan tekad bulat, sesalilah apa yang telah lewat dari umurmu dalam kelalaian, mintalah tolong kepada Allah untuk menyucikan yang lahir dari dosa-dosa dan yang batin dari aib-aib, putuskan ikatan kelalaian dari hatimu, dan padamkan api syahwat dari dirimu.

    Hukum-hukum Hati

    Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “I’rab hati ada empat bentuk: raf’ (mengangkat), fath (membuka), khofdh (merendahkan), dan waqf (berhenti). Mengangkat hati dalam keadaan mengingat Allah Yang Mahaluhur, membuka hati dalam keadaan ridha terhadap Allah, merendahkan (menistakan) hati dalam keadaan sibuk dengan selain Allah, dan berhenti (tidak mengingat Allah) dalam keadaan kelalain dari Allah. Apakah kamu tidak menyaksikan bahwa seorang hamba kalau mengingat Allah dengan takzim secara tulus, terangkat segala tirai antara dia dan Allah yang ada sebelumnya. Dan kalau hati tunduk pada qadha’ Allah Yang Mahaluhur dengan syarat rela darinya, betapa terbuka dengan kegembiraan, kebahagiaan, dan ketenangan. Kalau hatinya disibukkan dengan sesuatu dari urusan dunia, betapa kamu akan mendapatkannya dalam hal mengingat Allah dan tanda-tanda-Nya setelah itu dalam keadaan terjatuh dan gelap, layaknya sebuah rumah hancur, kosong, tidak ada tanda bangunan dan kebahagian, dan kalau lalai dari mengingat Allah Yang Mahaluhur, betapa kamu akan melihatnya terhenti dan tertutup, keras, dan gelap sejak meninggalkan cahaya takzim.
    Maka, tanda mengangkat ada tiga: kepatuhan, tidak ada penentangan, dan kesenantiasan rindu. Tanda membuka ada tiga: tawakal, jujur, dan yakin. Tanda merendahkan ada tiga: sombong, ria, dan tamak. Tanda berhenti ada tiga: hilang manisnya ketaatan, tidak ada rasa pahitnya maksiat, dan rancu dalam ilmu tentang halal dan haram.

    Penjagaan Hati

    Imam Ja’far Al-Shadiq as. berkata, “Siapa yang menjaga hatinya dari kelalaian, dirinya dari syahwat, dan akalnya dari kebodohan, ia telah masuk dalam istana orang-orang yang selalu ingat. Lalu siapa yang menjaga ilmunya dari hawa nafsu, agamanya dari bid’ah, dan hartanya dari yang haram, ia termasuk golongan orang-orang saleh. Rasulullah Saw. bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah”, maksudnya adalah ilmu tentang diri. Maka wajib bagi setiap diri seorang mukmin pada setiap keadaan senantiasan bersyukur dan memohon maaf, dengan makna jika Dia menerimanya, Dia telah bermurah hati dan kalau menolaknya, Dia telah berlaku adil. Dan dirinya harus mengamati bahwa segala gerakan dalam perbuatan taat terlaksana berkat taufik-Nya, dan diamnya dari maksiat berkat penjagaan-Nya. Dan tegaknya hal itu semua dengan rasa butuh kepada Allah Yang Mahaluhur, dengan keterdesakan kepada-Nya, khusyuk, dan ketundukan. Dan kuncinya adalah dengan bertaubat kepada Allah Yang Mahaluhur bersama membatasi harapan (kepada dunia) dengan selalu mengingat kematian dan bersaksi dengan berdiri di hadapan Yang Mahakuat. Karena dalam hal itu, kebebasan dari belenggu, terhindar dari musuh, dan keselamatan diri. Penyebab keikhlasan dalam ketaatan adalah taufik. Dan dasar itu adalah mengembalikan umurnya menjadi satu hari. Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia sesaat, maka gunakanlah untuk ketaatan. Pintu itu semua adalah bersenantiasa dalam uzlah dengan selalu berpikir. Penyebab uzlah adalah rasa puas dan meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup. Penyebab berpikir adalah kekosongan hati; tonggak kekosongan adalah zuhud; keutuhan zuhud adalah ketakwaan; pintu ketakwaan adalah takut, bukti takut adalah mengagungkan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan ketulusan taat kepada-Nya, takut, dan berhati-hati dengan menahan dari larangan-larangan-Nya. Dan bukti takut adalah berilmu, Allah Yang Mahamulia dan Mahaluhur berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah yang berilmu”.

    Niat

    Imam Ja’far Al-Shadiq as. berkata, “Pemilik niat yang jujur adalah pemilik hati yang selamat. Karena keselamatan hati adalah dari bayang-bayang perbuatan terlarang dengan memurnikan niat kepada Allah dalam segala perkara. Allah Yang Mahaluhur berfirman, “Di hari di mana tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat”, Rasulullah saw. bersabda, “Niatnya seorang mukmin lebih baik dari amalnya”, dan beliau bersabda, “Setiap amal dengan niatnya dan bagi setiap orang apa yang diniatkan”. Maka seharusnya seorang hamba tulus niatnya dalam setiap gerak dan diam, karena jika tidak demikian, ia lalai, sementara orang-orang yang lain disifati oleh Allah dengan firman-Nya, “Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya” dan firman-Nya, “Mereka adalah orang-orang yang lalai”. Lalu, niat tampak dari hati sekapasitas jernihnya makrifat, dan berbeda berdasarkan perbedaan keimanan dalam makna kuat dan lemahnya. Dan pemilik niat yang tulus, diri dan hawa nafsunya kalah di bawah kekuasaan takzim kepada Allah Yang Mahaluhur dan malu dari-Nya, dan dia dari tabiat, syahwat, dan keinginan dirinya dalam keletihan dan orang lain dari semua itu dalam kesenangan.

    (Diterjemahlakan dari Mishbah As-Syari’ah)

  • 2. sussyas  |  June 20, 2007 at 9:00 am

    terima ksaih sudah berkujung di rumah maya saya, thanks juga untuk hikmahnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: